Information about Asia and the Pacific Asia y el Pacífico
Chapter

Bab 1: Gambaran Umum

Author(s):
Ana Corbacho, and Shanaka Peiris
Published Date:
October 2018
Share
  • ShareShare
Information about Asia and the Pacific Asia y el Pacífico
Show Summary Details

Normalisasi kebijakan moneter di negara-negara maju yang bergejolak, volatilitas aliran modal, kesalahan langkah kebijakan global: beberapa hal tersebut hanyalah sedikit dari kemungkinan risiko-risiko yang menentukan prospek global pada beberapa tahun mendatang. Hal-hal tersebut mencerminkan tantangan-tantangan penting bagi negara emerging market dan negara berkembang di seluruh dunia.

Lima negara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau Association of Southeast Asian Nations–5 (ASEAN-5: lima anggota pendiri, terdiri dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand) berdiri kokoh dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Transformasi kerangka kebijakan mereka yang dramatis sejak krisis keuangan Asia telah menghasilkan stabilitas keuangan makro selama berlangsungnya transformasi domestik dan regional yang signifikan serta goncangan ekonomi makro dan keuangan global. Selama beberapa dekade terakhir, ASEAN-5 telah memperkuat daya tahan mereka, membangun penyangga, dan menyesuaikan kebijakan-kebijakan mereka untuk merespons limpasan global (global spillover).

Meski demikian, risiko-risiko global akan terus menguji negara-negara ASEAN-5. Dengan latar belakang ini, buku ini menawarkan agenda kebijakan untuk mempertahankan pertumbuhan dan stabilitas pada dekade-dekade mendatang. Bagian I menawarkan retrospeksi evolusi kebijakan moneter dan kerangka kerja stabilitas keuangan di dalam ASEAN-5, dengan fokus khusus pada perubahan sejak krisis keuangan Asia dan pada periode yang lebih terkini dari kebijakan moneter non konvensional di negara-negara ekonomi maju. Bagian II melihat transmisi-transmisi limpasan global dan respons kebijakan bidang moneter, nilai tukar, dan makroprudensial ASEAN-5. Bagian III menyimpulkan dengan tantangan-tantangan mendatang dan memberikan gambaran untuk memperbaiki lebih lanjut kerangka kebijakan, mengambil manfaat dari sinergi, dan memperkuat daya tahan.

Pengalaman keberhasilan ASEAN-5 memberikan pelajaran yang berharga bagi negara emerging market dan negara berkembang lainnya. Analisis para penulis yang komprehensif dan baru ini tidak meninggalkan suatu hal yang tersembunyi karena mereka telah mengumpulkan bukti mengenai apa yang telah berhasil dan menjelaskan apa yang harus ditingkatkan untuk menghadapi tantangan-tantangan ke depan.

Analisis yang dikemukakan dalam buku mendukung tiga kesimpulan utama:

1. Berbagai reformasi kebijakan moneter dan kerangka stabilitas keuangan yang ambisius yang diterapkan sejak krisis keuangan Asia telah membawa hasil.

Sejak krisis keuangan Asia, negara-negara ASEAN-5 telah menyesuaikan kerangka kebijakan mereka untuk menghadapi puncak tertinggi (boom) dan terendah (bust) keuangan secara lebih sistematis, bertolak dari program reformasi perekonomian dan sektor keuangan yang ambisius dan dengan rentang yang luas.

Dalam kaitannya dengan kerangka kebijakan moneter, suatu kerangka sasaran inflasi yang fleksibel di Indonesia, Filipina, dan Thailand, seiring dengan kerangka kerja yang sedikit berbeda di Malaysia dan Singapura, telah mendukung perekonomian ASEAN-5 dalam kaitannya dengan inflasi dan volatilitas output yang rendah (Gambar 1.1 dan 1.2). Bab 2, oleh Hoe Ee Khor dan kawan-kawan, mengkaji evolusi rezim kebijakan moneter sejak krisis Asia, menunjukkan bagaimana negara-negara ASEAN-5 mengakomodasi batasan-batasan yang ada pada “trinitas yang mustahil” (impossible trinity) dari suatu nilai tukar yang tetap, pasar modal yang terbuka, dan kebijakan moneter yang independen. Kejelasan tujuan stabilitas harga, termasuk penerapan sasaran inflasi yang eksplisit di beberapa negara, dan penguatan operasional dan keterbukaan bank sentral, telah menjadi tolak ukur utama dalam evolusi kerangka kebijakan moneter. Transisi menuju kerangka kerja yang lebih konsisten memandang ke depan (forward-looking) telah memungkinkan negara-negara ASEAN-5 bertahan dari krisis keuangan global dengan baik, demikian pula halnya dengan siklus harga komoditas dan lingkungan inflasi-rendah baru-baru ini. Selain itu, ASEAN-5 secara bertahap bergerak menuju rezim nilai tukar yang fleksibel, yang telah memperkuat kemandirian moneter dan memfasilitasi penyesuaian terhadap kejutan-kejutan eksternal. Terakhir, manajemen likuiditas yang aktif dan independen untuk menyelaraskan kondisi pasar dengan posisi kebijakan yang diumumkan serta membaiknya komunikasi bank sentral merupakan elemen utama keberhasilan mereka.

Gambar 1.1.Pertumbuhan PDB: ASEAN-5 dan Negara Setara

(Standar deviasi pertumbuhan tahun-ke-tahun)

Sumber: IMF, database World Economic Outlook; dan perhitungan staf IMF.

Catatan: ASEAN-5 = Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand; Amerika Latin (AL)-5 = Brasil, Chile, Kolombia, Meksiko, Peru; Emerging Market (EM) Eropa = Bulgaria, Hungaria, Polandia, Rumania, Russia, Turki, Ukraina.

Gambar 1.2.Inflasi: ASEAN-5 dan Negara Setara

(Persen perubahan tahun-ke-tahun, rata-rata)

Sumber: IMF, database World Economic Outlook; dan perhitungan staf IMF.

Catatan: Amerika Latin (AL)-5 = Brasil, Chile, Kolombia, Meksiko, Peru; Emerging Market (EM) Eropa = Bulgaria, Hungaria, Polandia, Rumania, Russia, Turki, Ukraina.

Reformasi utama atas kerangka kebijakan mikro- dan makro-prudensial telah memungkinkan sistem keuangan ASEAN-5 untuk membangun daya tahan yang signifikan. Bab 3, oleh Pablo Lopez Murphy, mengkaji inisiatif-inisiatif utama tersebut. Negara-negara ASEAN-5 telah melakukan perombakan besar terhadap regulasi dan pengawasan keuangannya; para pengawas perbankan telah menerima prinsip-prinsip utama Basel, penguatan kebijakan pengawasan, mengharuskan bank untuk meningkatkan modal, dan menyelaraskan berbagai regulasi dengan praktik terbaik. ASEAN-5 juga telah bekerja untuk melakukan restrukturisasi perusahaan non keuangan, termasuk dengan membentuk perusahaan-perusanaan pengelola aset yang terpusat dan mengandalkan proses penyelesaian utang di luar pengadilan sebagai alternatif yang cepat, efektif dari sisi biaya, dan alternatif yang ramah-pasar dibandingkan penyelesaian melalui pengawasan pengadilan. Selain itu, negara-negara ASEAN-5 telah mengembangkan pasar obligasi dengan mata uang lokal untuk mengurangi ketidaksesuaian nilai tukar, menurunkan risiko-risiko kredit dan jatuh tempo pada perbankan, dan menyimpan “ban cadangan” jika sistem perbankan mengalami kerusakan.

Semua upaya ini telah membantu negara-negara ASEAN-5 melalui krisis keuangan global dengan baik dan menjaga stabilitas keuangan. Setelah krisis global, sistem-sistem keuangan ASEAN-5 memiliki postur yang lebih baik dibandingkan dengan negara-negara maju karena para pembuat kebijakan ASEAN secara rutin merespons risiko-risiko sistemik yang muncul. Kini, sistem-sistem keuangan ASEAN-5 memiliki perbedaan dari sisi ukuran, akses, efisiensi, dan struktur pengawasan keuangan, sebagian mencerminkan perbedaan perkembangan perekonomian. Namun mereka juga memiliki kesamaan-kesamaan yang penting, termasuk semakin pentingnya “bank-bank bayangan” (shadow banks) dan pasar keuangan, kehadiran konglomerat keuangan yang menonjol, dan partisipasi pemerintah yang tinggi. Pandangan sekilas menyatakan bahwa risiko-risiko keuangan makro dapat dikendalikan dan secara umum lebih rendah pada negara-negara ASEAN-5 dibandingkan dengan sistem keuangan global (Gambar 1.3), suatu bukti manfaat upaya-upaya reformasi kuat yang telah berjalan selama beberapa dekade.

Gambar 1.3.Peta Stabilitas Keuangan ASEAN-5 2017 versus Global, 20171

Sumber: Prakiraan staf IMF.

1 Nilai yang lebih rendah mengindikasikan risiko yang lebih rendah.

2. Limpasan global (global spillovers) akan terus menguji kerangka kebijakan di negara-negara ASEAN-5.

Dengan adanya krisis keuangan global, para pembuat kebijakan ASEAN-5 dipaksa untuk menyesuaikan kerangka mereka untuk memperkuat otonomi kebijakan dan memitigasi risiko-risiko dari limpasan global. Bab 4, oleh Shanaka J. Peiris dan lain-lain, mempertimbangkan kanal-kanal di mana faktor-faktor keuangan global telah menimbulkan dampak terhadap pasar-pasar keuangan domestik dan kondisi-kondisi moneter di ASEAN-5. Analisis komponen utama kondisi-kondisi keuangan domestik telah mengidentifikasi dua kanal transmisi utama keuangan-makro dari goncangan keuangan global: satu di antaranya terkait dengan Indeks Volatilitas Chicago Board Options atau Chicago Board Options Volatility Index (VIX) dan pengaruhnya kepada arus modal dan harga-harga aset secara signifikan; saluran lain adalah terkait dengan tingkat suku bunga Amerika Serikat dan terutama mempengaruhi kondisi-kondisi moneter dan kredit. Bab ini juga melakukan kajian empiris terhadap transmisi kebijakan moneter cadangan devisa terhadap suku bunga pasar jangka pendek dan jangka panjang domestik, dan juga suku bunga bank ritel, mengingat pentingnya faktor-faktor tersebut dalam transmisi kebijakan moneter domestik (Gambar 1.4). Limpasan keuangan-makro terhadap ekonomi riil juga diteliti melalui model autoregresi vector Bayesian. Hasilnya menunjukkan bahwa siklus-siklus keuangan global berasal dari perubahan-perubahan dalam kebijakan moneter AS dan bahwa penghindaran risiko global menentukan kondisi-kondisi keuangan dan ekonomi makro domestik di ASEAN-5.

Gambar 1.4.Tingkat Imbal Hasil (Yield) Obligasi Global

Perubahan sejak Januari 2010 (basis point)

Sumber: Bloomberg L.P.; dan Haver Analytics.

Catatan: AEs = advanced economies atau negara maju; EMs = emerging markets atau negara kekuatan ekonomi baru; LCY = local currency atau mata uang lokal.

Melihat ke depan, beberapa skenario global dapat menentukan prospek dan limpasan terhadap negara-negara emerging markets dengan latar belakang ketidakpastian yang meningkat. Simulasi-simulasi ilustratif berbasis model menunjukkan bahwa normalisasi kebijakan moneter yang lebih cepat daripada yang diantisipasi di Amerika Serikat atau pelambatan pertumbuhan yang mendadak di Tiongkok akan memberikan pukulan keras terharap negara-negara ASEAN-5 melalui melemahnya permintaan eksternal dan meningkatnya ongkos pendanaan (financing costs), yang menuntut adanya respons kebijakan.

Bab 5, oleh Shanaka J. Peiris dan lain-lain, mengulas mengenai bagaimana kebijakan-kebijakan moneter dan nilai tukar merespons limpasan selama dan setelah krisis keuangan global. Bab ini menyajikan hasil-hasil dari fungsi-fungsi reaksi aturan Taylor (Taylor rule) terhadap negara tertentu, yang menunjukkan bahwa bank-bank sentral merespons terutama terhadap perkembangan inflasi domestik, meskipun pertimbangan eksternal juga memainkan peran. Kebijakan suku bunga juga didapati rentan terhadap goncangan moneter global, mengendalikan interdependensi siklus-siklus perekonomian, sementara derajat otonomi kebijakan moneter bervariasi di antara ASEAN-5, dengan transmisi moneter dipengaruhi oleh goncangan keuangan global dan harga komoditas.

Perubahan menuju rezim nilai tukar yang lebih fleksibel di kawasan ini sangat penting dalam memfasilitasi penyesuaian terhadap goncangan eksternal dan mencegah menumpuknya utang jangka pendek dalam mata uang asing. Hal ini merupakan perubahan besar dari periode pra-krisis keuangan Asia, dan memungkinkan nilai tukar untuk berperan sebagai peredam goncangan yang efektif selama krisis keuangan global. Seiring dengan pergeseran kebijakan ini, cadangan devisa internasional pada negara-negara tersebut tersebut juga meningkat secara signifikan, memperkuat posisi eksternal dan memungkinkan pemanfaatan penyangga devisa untuk menghindar dari kondisi pasar yang tidak beraturan.

Simulasi model yang terkalibrasi juga menyatakan bahwa intervensi pasar mata uang asing, pada beberapa kondisi, dapat membantu mengurangi fluktuasi siklus bisnis dalam menanggapi goncangan arus modal. Aspek utama dari respons kebijakan terhadap krisis keuangan global dan episode arus keluar modal adalah penerapan berbagai kebijakan pendukung pada waktu yang tepat, dengan mempertimbangkan keterkaitan keuangan-makro.

Negara-negara ASEAN-5 telah berada lebih depan dibandingkan dengan kawasan-kawasan lain dalam mewujudkan manfaat dari kebijakan-kebijakan makroprudensial untuk stabilitas keuangan. Bab 6, oleh Sohrab Rafiq, mencatat peningkatan penggunaan kebijakan makroprudensial di ASEAN-5 dan menganalisis efektifitas kebijakan tersebut dalam menjaga stabilitas keuangan. Selama 30 tahun terakhir telah terlihat adanya pergeseran jenis-jenis perangkat makroprudensial yang digunakan oleh negara-negara ASEAN-5, dengan fokus yang lebih besar pada sektor real estat dan perangkat prudential domestik khusus kredit (Gambar 1.5). Hal ini merupakan respons terhadap kebutuhan untuk mengatasi risiko stabilitas keuangan yang ditandai dengan meningkatnya utang rumah tangga dan siklus harga aset.

Gambar 1.5.Penerapan Kebijakan Mikroprudensial

(Jumlah perubahan kebijakan, 1990-terkini)

Sumber: database Bank for International Settlements; dan perhitungan staf IMF.

Catatan: CEEs = central and eastern European economies (negara Eropa tengah dan timur); EMs = emerging markets; LAC = Latin America and Caribbean (Amerika Latin dan Karibia).

Penerapan dan efektivitas kebijakan-kebijakan makroprudensial merupakan sebuah bidang terbaru dalam pembuatan kebijakan makroekonomi di seluruh dunia dan suatu bidang di mana kita masih berada dalam mode belajar. Kajian peristiwa dan prakiraan data panel untuk ASEAN-5 menunjukkan bahwa perangkat makroprudensial telah efektif dalam membatasi kerentanan sistemik dan dinamika pro siklus antara harga aset dan kredit selama dua dekade terakhir. Pada khususnya, penggunaan rasio utang terhadap nilai agunan (loan-to-value ratio) dan pajak-pajak terkait real estat secara efektif telah memitigasi kenaikan harga properti dan pertumbuhan kredit sektor perumahan.

Kebijakan-kebijakan makroprudensial juga telah melengkapi kebijakan moneter dan meningkatkan mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui kanal pinjaman bank. Selain itu, meningkatnya penerapan perangkat makroprudensial mencerminkan pergeseran dalam pengelolaan modal bank di seluruh kawasan, yang terjadi bersamaan dengan lebih rendahnya keinginan mengambil risiko dan berkurangnya ketergantungan terhadap pendanaan non inti oleh perbankan, dan menghasilkan pengelolaan neraca bank yang lebih hati-hati. Pengalaman sukses ASEAN-5 dengan kebijakan-kebijakan makroprudensial dengan demikian telah menjadi pelajaran bagi negara-negara ekonomi maju dan negara-negara emerging market.

Penerapan kebijakan-kebijakan makroprudensial yang lebih aktif merupakan tanda bahwa para pembuat kebijakan ASEAN-5 telah lama menyadari bahwa ketidakseimbangan keuangan dapat meningkat bahkan selama periode-periode perekonomian yang tenang dan tekanan inflasi yang rendah. Bukti dari ASEAN-5 menyiratkan bahwa stabilitas keuangan tidak akan muncul begitu saja sebagai produk sampingan alami dari apa yang disebut sebagai posisi kebijakan moneter yang tepat. Temuan-temuan pada bab ini menyatakan bahwa bank-bank sentral oleh karena itu memiliki insentif yang kuat untuk mengupayakan kebijakan-kebijakan makroprudensial untuk menjaga stabilitas keuangan. Meski demikian, para pembuat kebijakan sebaiknya mengingat bahwa kebijakan makroprudensial memiliki biaya dan imbal balik. Selain itu, agar kebijakan makroprudensial menjadi efektif, tujuan-tujuannya harus didefinisikan dengan jelas dan didukung oleh kerangka akuntabilitas yang kuat. Dalam hal ini, negara-negara ASEAN-5 terus mengembangkan pondasi-pondasi kelembagaan yang sesuai.

3. Tantangan-tantangan mendatang menuntut pembaruan kebijakan dan kerangka institusional, pemanfaatan sinergi-sinergi kebijakan, serta perolehan manfaat dari integrasi regional.

Satu dekade setelah krisis keuangan global, lanskap ekonomi makro dan keuangan global masih dipengaruhi oleh beberapa hal yang diwarisi dari krisis tersebut. Negara-negara ASEAN-5 menghadapi periode yang berlarut-larut ketika kebijakan-kebijakan moneter yang ekspansif dari negara paling maju (most advanced economies) tidak selaras dengan kondisi perekonomian domestik negara-negara emerging market. Prospek global adalah normalisasi kebijakan moneter secara bertahap di negara-negara maju di tengah tekanan inflasi yang relatif rendah. Meski demikian, kejutan inflasi dapat secara tiba-tiba memperketat kondisi-kondisi keuangan global dan memicu volatilitas arus modal, dengan implikasi serius terhadap negara-negara emerging market dan berkembang di seluruh dunia.

Seperti yang dibahas pada Bab 7, oleh Juan Angel Garcia Morales dan lain-lain, kebijakan moneter di negara-negara ASEAN-5 harus terus menyesuaikan diri terhadap kondisi normal baru berupa kondisi global yang tidak pasti dan berubah dengan cepat. Bab ini pertama-tama melakukan analisis terhadap evolusi dinamika inflasi di kawasan selama dua dekade terakhir. Fokus utama terhadap stabilitas harga telah meningkatkan efektivitas kerangka kebijakan moneter ASEAN-5. Sejak krisis keuangan Asia, ekspekstasi inflasi telah secara bertahap menjadi penentu dinamika inflasi yang paling penting, menegaskan orientasi kerangka kebijakan moneter di kawasan ini yang melihat ke depan (forward-looking) (Gambar 1.6). Analisis dalam bab ini juga menyatakan dampak pelambatan ekonomi terhadap inflasi yang telah mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Kurva Phillips yang semakin rata mungkin memiliki implikasi penting bagi kebijakan moneter di negara-negara ASEAN-5. Misalnya, di negara-negara yang terutama terdampak oleh goncangan harga minyak yang rendah dan menghadapi inflasi di bawah target, pemulihan inflasinya dapat saja lebih lemah dibandingkan pada masa lalu. Selain itu, penurunan tingkat suku bunga alami di beberapa negara tersebut, mengikuti perkembangan di negara-negara lain di seluruh dunia, yang dapat membatasi lingkup kebijakan moneter untuk mengimbangi pelambatan perekonomian berikutnya.

Gambar 1.6.Kontribusi terhadap inflasi di ASEAN-5

(Rata-rata)

Sumber: Prakiraan staf IMF.

Perbedaan dalam kinerja inflasi dibandingkan target bank sentral dan kerentanan sektor keuangan menuntut respons yang berbeda terhadap tantangan global dalam kondisi normal baru. Potensi perbaikan lebih lanjut dalam kerangka kebijakan moneter mungkin asimetris di negara-negara ASEAN-5. Meski demikian, negara-negara ASEAN-5 berada pada posisi terus menyesuaikan kerangka kebijakan moneter mereka melalui komunikasi yang diperkuat dan pemantauan yang lebih baik terhadap ekspektasi inflasi. Dalam hal ini, para penulis menyajikan prakiraan baru terhadap ekspektasi inflasi berdasarkan tren inflasi yang melengkapi langkah-langkah berbasis survei yang telah ada. Transparansi mengenai respons terhadap perubahan yang cepat dan prospek yang tidak pasti, serta penyesuaian dalam kerangka kebijakan moneter untuk mengatasinya, kemungkinan akan menjadi fitur penting dari komunikasi bank sentral yang efektif di masa mendatang.

ASEAN-5 telah berhasil menghadapi krisis keuangan global dengan baik, namun warisan krisis masih terus mengikuti, dan sebagian kerentanan keuangan telah mengalami peningkatan. Bab 8, oleh Pablo Lopez Murphy dan lain-lain, menyajikan suatu analisis risiko-risiko sistemik dan membahas agenda kebijakan untuk penguatan kerangka stabilitas keuangan. Para penulis pertama-tama meneliti pertumbuhan kredit yang pesat sejak krisis keuangan global. Namun mereka menyimpulkan bahwa tidak ada bukti peningkatan kredit secara umum di ASEAN-5 setelah krisis global, tidak seperti periode sebelum krisis Asia. Meski demikian, meningkatnya utang korporasi dan utang rumah tangga di beberapa negara menuntut adanya pengawasan yang hati-hati. Selain itu, tingginya tingkat interkoneksi di dalam sektor keuangan dan antara sektor keuangan dan sektor riil, sementara tidak dapat dihindarkan dalam proses pendalaman keuangan (financial deepening), dapat menjadi sumber kerentanan baru. Terakhir, teknologi-teknologi baru dapat membawa manfaat namun juga menimbulkan risiko-risiko terhadap sistem-sistem keuangan ASEAN-5.

Bab ini mendiskusikan tantangan-tantangan dan agenda kebijakan mendatang untuk penguatan kerangka stabilitias keuangan. Oleh karena mereka dapat memperhalus siklus kredit, kebijakan-kebijakan makroprudensial merupakan pilar utama dalam membatasi bahaya pertumbuhan kredit yang cepat. Para pembuat kebijakan harus mempertimbangkan pembaruan pranata mereka dengan kebijakan-kebijakan makroprudensial kontra-siklus (countercyclical) yang sistematis untuk membangun penyangga saat terjadinya puncak pertumbuhan (boom). Regulasi sistem keuangan dan kerangka pengawasan serta manajemen krisis adalah pilar-pilar utama lainnya untuk ketahanan. Standar-standar Basel III seharusnya menjadi tolak ukur yang ingin dicapai oleh semua negara. Sama halnya, Kunci Utama Penanganan Lembaga Keuangan yang Efektif atau Key Attributes for Effective Resolution of Financial Institutions merupakan metrik yang relevan untuk kerangka resolusi. Pada gilirannya, sementara kerangka regulasi untuk mata uang kripto masih terus berkembang, mereka harus menyeimbangkan antara pembatasan risiko dengan meningkatkan inovasi.

Mengelola siklus naik turun (boom-and-bust) dengan adanya limpasan global tetap merupakan sebuah tantangan kebijakan utama bagi negara-negara ASEAN-5. Bab 9, oleh Manrique Saenz dan lain-lain, mencatat bahwa resesi-resesi yang mengikuti suatu periode penurunan telah mengakibatkan penurunan output baik sementara maupun permanen di kawasan tersebut. Selain itu, pertumbuhan yang menukik turun menjadi semakin besar dampaknya dengan adanya kerentanan keuangan, seperti utang rumah tangga atau korporasi yang berlebihan. Kebijakan moneter kontra siklus dapat memainkan peran kunci dalam mengelola siklus boom-and-bust, namun, jika diterapkan terpisah, efektivitasnya terbatas. Bab ini dengan demikian menawarkan pemanfaatan sinergi antara kebijakan-kebijakan moneter, makroprudensial, dan fiskal untuk mengelola fluktuasi sejalan dengan siklus riil dan keuangan dan mempertahankan pertumbuhan.

Kebijakan-kebijakan makroprudensial dapat memainkan peran penting dalam melengkapi kebijakan moneter. Simulasi-simulasi model menunjukkan bahwa perangkat makroprudensial kontra siklus yang ditargetkan pada ketidakseimbangan keuangan, ditambah dengan kebijakan moneter yang terfokus pada inflasi dan pertumbuhan, dapat meningkatkan stabilitas ekonomi makro dan keuangan, dan memberikan hasil ekonomi makro yang lebih baik daripada strategi yang menggunakan kebijakan moneter sebagai satu-satunya perangkat. Hasil tersebut cukup kuat terhadap kurva Phillips yang relatif mendatar. Perangkat makroprudensial kontra siklus juga menunjukkan pengurangan risiko-risiko sistemik dengan biaya-biaya minimal terhadap aktivitas ekonomi riil dalam menanggapi beragam goncangan.

Kebijakan fiskal juga dapat melengkapi kebijakan moneter dalam memperhalus siklus sembari mendukung pertumbuhan jangka menengah dan panjang. Skenario-skenario kebijakan menunjukkan pengembalian atas investasi infrastruktur di bawah fungsi-fungsi reaksi kebijakan moneter yang berbeda. Pada khususnya, untuk negara-negara yang tingkat inflasinya tetap rendah, dorongan infrastruktur, ditambah dengan kebijakan moneter yang akomodatif (monetary accommodation), dapat menghasilkan peningkatan PDB riil secara signifikan. Pertambahan pertumbuhan juga memungkinkan mereka untuk melindungi ruang fiskal mereka, bahkan ketika peningkatan skala investasi didanai dari utang. Untuk negara-negara dengan ruang fiskal yang lebih terbatas dan inflasi yang tinggi, fokus terhadap investasi dengan efisiensi tinggi tampaknya merupakan opsi terbaik untuk mencapai efek pengganda (multiplier) yang lebih tinggi.

Pendalaman integrasi keuangan regional dapat membantu mendukung ketahanan keuangan, stabilitas dan pembangunan. Bab 10, oleh Yiqun Wu dan lain-lain, mengkaji secara detail manfaat dan tantangan yang muncul dari gerakan Masyarakat Ekonomi ASEAN menuju liberalisasi keuangan dan aliran modal yang lebih bebas pada tahun 2025. Bab ini menunjukkan bahwa integrasi keuangan regional telah tertinggal tidak hanya dari sisi integrasi perdagangan regional, namun juga integrasi keuangan dengan negara-negara lain di luar kawasan (Gambar 1.7). Berdasarkan bukti dari prakiraan data panel, bab ini mengusulkan bahwa perbaikan kualitas regulasi dan kelembagaan dan pengurangan pembatasan aliran modal merupakan peluang-peluang menjanjikan untuk mendorong integrasi keuangan regional. Bab ini juga menunjukkan dukungan empiris untuk manfaat yang signifikan dari integrasi keuangan regional, mulai dari ketahanan yang lebih baik terhadap kejutan-kejutan global hingga penyeimbangan kembali perekonomian dan pertumbuhan yang lebih tinggi.

Gambar 1.7.Integrasi Perdagangan dan Portfolio, 2001–151

Sumber: Perhitungan staf IMF.

1 Nilai intensitas perdagangan dikalkulasikan berdasarkan pangsa suatu negara dalam perdagangan global sebagai proporsi dari komposisi PDB. Nilai intensitas investasi portfolio dikalkulasikan sebagai pangsa suatu negara dalam portfolio keuangan global sebagai proporsi dari komposisi PDB.

Ketika memajukan integrasi keuangan regional, penting untuk mendapatkan manfaatnya sambil pada saat yang sama meminimalkan risikonya. Perhatian yang lebih saksama sebaiknya diberikan kepada stabilitas keuangan dan jaring pengaman sosial. Pembukaan pasar keuangan mensyaratkan, pada urutan pertama, adanya penguatan sistem keuangan domestik dan peningkatan fundamental ekonomi makro. Di tingkat regional, kerja sama harus dilanjutkan untuk meningkatkan pertukaran informasi, pengawasan, dan manajemen krisis serta untuk membangun suatu jaringan pengaman lintas negara yang efektif. Pada beberapa tahun terakhir jaring pengaman regional telah meningkat secara substansial. Suatu pengaturan currency swap multilateral di antara negara-negara ASEAN+3 (Multilateralisasi Inisiatif Chiang Mai, atau Chiang Mai Initiative Multilateralization, CMIM) dibentuk pada bulan Maret 2010, dan suatu fasilitas pencegahan krisis (Lini Pencegahan CMIM) telah diperkenalkan. Suatu unit pengawasan ekonomi makro regional yang independen— Kantor Penelitian Makroekonomi ASEAN+3—telah beroperasi sejak tahun 2011 dan telah diubah menjadi organisasi internasional pada tahun 2016. Kantor ini berupaya memperkuat hubungan kerja sama dengan lembaga-lembaga keuangan internasional dan telah menandatangani nota kesepahaman dengan IMF pada tahun 2017 untuk meningkatkan kerja sama agar dapat secara lebih efektif merespons kebutuhan dari anggota-anggotanya yang sama.

Dengan prakondisi-prakondisi dan prasyarat-prasyarat tersebut, pendekatan bertahap terhadap integrasi keuangan regional tampaknya merupakan cara yang tepat ke depannya. Liberalisasi dengan tahapan yang tepat dan peningkatan kerangka regulasi dan kebijakan untuk menangani lebih tingginya interkonektivitas lintas batas negara dapat membantu membatasi risiko-risiko sistemik, sementara negara-negara ASEAN-5 dapat mendapatkan manfaat dari integrasi keuangan regional.

Untuk mengunduh publikasi lengkap dalam format digital, silakan kunjungi perpustakaan elektronik IMF

www.elibrary.imf.org/aseanbook

Untuk membeli buku secara lengkap atau untuk informasi lebih lanjut tentang publikasi IMF, silakan kunjungi

www.bookstore.imf.org

“Buku ini menyajikan gambaran yang lengkap tentang bagaimana ASEAN, masing-masing anggotanya dan sebagai sebuah kelompok, bangkit dari krisis keuangan regional terburuknya 20 tahun yang lalu, guna menjadi salah satu yang paling bertahan dalam menghadapi krisis global terburuk hanya dalam satu dasawarsa kemudian. Tantangan yang dihadapi dan respons kebijakan yang diambil, yang disusun berurutan dan dianalisis dalam penelitian ini, diharapkan dapat memberikan pelajaran lebih lanjut saat kita menghadapi paradigma kebijakan global yang baru. Buku ini harus dibaca oleh para akademisi, komunitas keuangan, dan para pembuat kebijakan.”

Amando Tetangco, Jr.

Mantan Gubernur, Bangko Sentral ng Pilipinas

“Siklus keuangan global tidak pernah ketinggalan zaman; selalu tepat waktu karena sifat repetitifnya. Bagaimana negara-negara ASEAN-5 mengatasi hal itu? Buku yang luar biasa ini akan membantu Anda menjawab pertanyaan ini.”

Muhamad Chatib Basri

Mantan Menteri Keuangan, Indonesia

“Reformasi ekonomi dan keuangan ASEAN-5 yang ekstensif, dengan fokus pada stabilitas di samping pertumbuhan, telah menghasilkan ketahanan yang bertahan lama setelah krisis Asia tersebut, termasuk bangkit dari krisis global terburuk relatif tanpa cedera. Buku ini memberikan sebuah gambaran dan analisis yang sangat baik tentang ‘Cara ASEAN,’ yang menawarkan pelajaran berharga bagi para ekonom keuangan-makro dan pembuat kebijakan hingga di luar ASEAN.”

Tarisa Watanagase

Mantan Gubernur, Bank of Thailand

PETIKAN

Cara ASEAN: Mempertahankan Pertumbuhan dan Stabilitas

MCASEAN5IAEX

    Other Resources Citing This Publication